Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the spidermag-pro domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/artikelb234boke/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121
Cerita Sex Pengalamanku Berhubungan Dengan dengan Gadis SMP Yang Masih Perawan - Artikel Bokep - Artikel Cerita Seks - Artikel Sex Dewasa - Cerita Dewasa

Cerita Sex Pengalamanku Berhubungan Dengan dengan Gadis SMP Yang Masih Perawan

Cerita Sex  Pengalamanku Berhubungan Dengan  dengan Gadis SMP Yang Masih Perawan

Cerita Sex Pengalamanku Berhubungan Dengan dengan Gadis SMP Yang Masih Perawan

Comments Off on Cerita Sex Pengalamanku Berhubungan Dengan dengan Gadis SMP Yang Masih Perawan

Ia di sini tinggal berdua dengan kakak wanita tertuanya yang kerja di Bank. Mengontrak rumah imut di wilayah Cipete.Sedang ke-2 orangtua Sari ialah asli orang Tasik. Ke-2 nya elok. Tinggi badannya hampir serupa. Rina orangnya putih, cukup gendut dan kurang lebih omong. Sedang Sari hitam manis, condong pendiam dan cukup kurus.

Bokep Jav Sub IndoSingkat kata, sesudah seringkali mengajarkan, saya tahu jika memang sang Rina kurang dapat fokus. Fokusnya selalu pecah. Ada-ada saja argumennya. Berlainan dengan Sari. Bahkan juga terkadang matanya memikat nakal melihatku. Mungkin jika tidak ada Sari, telah kuterkam ia. Bajunya juga terkadang mengundang gairahku. Celananya pendek dengan kaos oblong tanpa BH. Berlainan dengan Sari. Sari memang pendiam. Jika tidak ditanyakan, ia diam saja . Maka jika tidak paham, ia malu menanyakan. Tapi dari pengalamanku, saya tahu jika Sari ini memiliki gairah yang lebih besar yang terkubur.

Satu saat saya tiba mengajarkan ke rumah Rina. Seperti umumnya jika jam belajar, pintu depannya tidak digembok, menjadi saya dapat segera masuk. Kok sepi..? Pada ke mana..? Saya ketidaktahuan, saksikan sana dan sini cari orang di dalam rumah tersebut. Saya segera ke dapur, tidak ada siapa saja. Saya memang biasa dan telah dibolehkan berkeliling-keliling tempat tinggalnya. Ingin masuk kamarnya tetapi takut karena tidak pernah. Lantas duduk di ruangan tamu, sekalian buka-buka buku menyiapkan pelajaran.

Samar-samar saya dengar suara mendesah-desah. Saya menjadi tidak fokus. Kucari arah suara tersebut. Rupanya dari kamarnya Rina. Kutempelkan telingaku ke pintu. Sesudah percaya itu suara Rina, kucoba putar pegangan pintunya, rupanya tidak digembok. Kubuka sedikit dan kuintip.

Rupanya ia sedang masturbasi pada tempat tidurnya. Tangan kirinya meremas-remas susunya, tangan kanannya masuk ke roknya. Muka dan suara desahannya membuatku terangsang. Saya masuk perlahan-lahan, ia terkejut sekali melihatku. Tangannya langsung menarik kaosnya tutupi susunya. Mukanya merah padam karena malu.

“Ehh.. ee.. Masss.. suss.., ssuuddaaahh laammaaa..?” tanyanya terbata-bata.

Karena saya telah terangsang dan telah percaya sekali jika ia juga ingin, langsung kulumat bibirnya. Awalnya ia terkejut, tapi sesaat ia juga kembali membalasnya kecupanku dengan garangnya. Tanganku juga masuk langsung ke kaosnya, cari bukit kembarnya. Kuraba-raba, kuremas-remas ke-2 bukitnya berganti-gantian. Tidak sekenyal dan sekuat punyanya Sara atau Ketty.

“Aaahhh.., Masss.., mmm.., aaahhh..!” desahnya.

Karena cukup mengusik, kuangkat lepas kaosnya. Terpampanglah ke-2 bukit kembarnya. Putih bersih dengan puttingnya merah muda yang mencolok cantik. Kurebahkan ia, kuciumi ke-2 bukit kembarnya berganti-gantian.

“Ahhh.., Mass..! Teruuuss Masss..! Aahhh.., ooohhh… Hissaaappp.., Masss..!”

Langsung kukulum-kulum dan kuhisap-hisap puting susu kanannya, sedang yang kiri kuremas-remas.

“Aaahhh.., ooohhh.., Mass eenaaakkkk.., Mass yang keeraasss..!”

Tangannya saat ini tidak ingin diam, mulai menggenggam tangkai kejantananku yang telah tegang di luar celanaku. Tanganku mulai masuk ke roknya. Astaga. Ia tidak menggunakan celana dalam. Kucari-cari hubungan roknya, resletingnya, lantas kuplorotkan roknya. Terpampanglah badan cantik putih di hadapanku. Kucium perutnya, naik kembali ke susunya demikian berkali-kali. Kepalanya bergolek ke kanan dan ke kiri.

“Auwww.., Maasss..! Aaaddduuuhhh.., ooohhh..!” ia nikmati kesan yang kuberikan.

Kurang lebih tiga menit, mendadak ia bangun. Melepaskan kaosku, turunkan celana dan celana dalamku sekaligus. Saya didorongnya. Tangkai kejantananku yang telah menegang secara langsung berdiri di hadapannya.

“Kamu nakal yaa.., berdiri tanpa ijin..!” ucapnya ke kemaluanku.

Langsung dikocak-kocok, diurut, dipijat oleh tangannya.

“Aaahhh… Riiinnn.. Dari barusan keekk..!” kataku protes.

Lantas ia mulai mengulum senjataku. Lantas kakinya putar mengangkangi mukaku. Saya tahu tujuannya. Saat ini, ada bibir kemaluan cantik di hadapanku. Langsung kulahap. Kujilati semua permukaan lubang keperawanannya.

“Telah basah sekali ini orang..!” pikirku.

Tiap saya sentuh kelentitnya, ia stop mengisap tangkai keperkasaanku.

Lantas ia melepas penisku, berdiri, lantas jongkok pas di atas alat vitalku.

“Bukan bermain..! Masih kelas 2 SMP kok telah ini luar biasa bermainnya..!” batinku, “Umurnya paling-paling seumuran Sara, 13 tahunan.”

Ia pegang senjataku, ditepatkan ke lubangnya, lantas dengan perlahan-lahan ia berjongkok.

“Aaahhh..!” desisku saat kepala kemaluanku ditelan lubang kepuasannya.

Masih sempit. Benar-benar perlahan-lahan ia turunkan bokongnya. Penetratif ini benar-benar cantik. Matanya terpejam, tangannya menekan dadaku. Ia nikmati sekali tiap gesekan untuk gesekan.

“Aaahhh.., ssshhhssshhh..!” desahnya.

Sesudah semua tangkai kemaluanku masuk, berasa olehku kepala kejantananku sentuh rahimnya. Didiamkan sesaat sekalian dikedut-kedutkan urat kemaluannya.

“Aaahhh.., Riiinnn… eeennnaaakkk sseeekkkaallliii..!”

Lantas pelan-pelan ia mulai menaik-turunkan bokongnya. Susunya bergoyang-goyang cantik. Kuremas-remas ke-2 nya.

“Aa.., ah.., ahh.., ooohhh.., sshshshsh.., shhh..!”

Semakin lama makin cepat. Selang beberapa saat ia menjepitkan kakinya ke bokongku sekalian tangannya meremas dadaku dan menekan bokongnya supaya masuk lebih dalam.

“Massss.., aakkkuuu.. uuuddddaaahhh… aaahhh..!” desahnya tidak pasti.

“Syurrrr… ssyyuurrr…” cairan hangat menyelimutinya kepala tangkai kejantananku.

Ia rebah ke atas badanku. Saya yang masih belum sampai, langsung mengubah tubuhnya. Langsung kegenjot ia sekencang mungkin. Karena lubang senggamanya telah basah, karena itu daya cengkeramnya turun. Hingga saya harus lama memompanya.

“Maasss.., uuuddaaahhh..! Aaakkkuuu eenggaaakkk taahhhaannn..!Adduuuhhh.. Mmass..! Geeellii..!” teriaknya.

Ia berkelojotan, susunya bergoyang-goyang. Kuremas-remas ke-2 nya dengan ke-2 tanganku. Saya tidak perduli, terus kugenjot.

Hingga kemudian, “Aaahhh.., Rriiinnn.. Maasss… ssaammmpeee… aaahhh..!” desahku yang di ikuti dengan, “Croottt.., croottt.., croottt..,” empat barisan cairan spermaku memuncrat di lubang senggamanya.

Aku segera roboh ke dadanya. Sesudah surut napasku, kupeluk ia sekalian bergulir ke sampingnya. Kucium keningnya. Kudekap ia lebih rapat. Tangkai keperkasaanku tetap tertanam di lubang kepuasannya.

“Terima kasih ya Riinnn..!”

“Sama Maasss..!”

“Riinnn.., maaf ya..? Mas ingin bertanya.., Tetapi Rina jangan geram yaaa..?”

“Rina tahu apa yang Mas ingin bertanya. Memang Rina sudah kerap beginian sama kekasih Rina. Tetapi telah dua bulan ini putus, menjadi Rina kerap masturbasi sama seperti yang Mas simak barusan.” jawabannya sangat ringan.

“Oooo..”

“Mas ialah orang ke-2 yang menyetubuhi Rina sesudah kekasih Rina.”

Mass.., Rina khan belajarnya sama Sara. Sara banyak narasi ke Rina mengenai jalinan Sara sama Mas… Kata Sara, Mas luar biasa.., Rina menjadi kepengiiiinn sekali jalinan sama Mas..!”

“Kapan Rina pertama kalinya jalinan dengan kekasih Rina..?”

“Sudah lama Mas.., kurang lebih waktu Rina kelas satu dahulu. Rina kecurian Mass.., tetapi sesudah tahu nikmatnya, Rina menjadi suka.”

“Ooo.”

“Sang Sari kok tidak dateng..?”

“Siang tadi Saya katakan ke Ia, ini hari tidak belajar, karena Saya pengiinn sekali ngentot sama Maass.. Habis.. gatel sssiiiihh..!” ucapnya sekalian mengedut-ngedutkan lubang kewanitaannya.

Penisku terasanya dipijat. Kucabut, lantas keluarlah cairan kental putih dari lubang senggamanya. Lubang kepuasannya kubersihkan dengan kaosnya, lantas tangkai kejantananku juga kulap.

“Saat ini ingin belajar..?” tanyaku.

“Sepertinya tidak dech Mas. Kasian khan Sari ketinggal.”

“Ok dech. Mas sebenarnya ada juga perlu di dalam rumah. Ingin bantuin bapak betulin mobil orang. Esok ingin diambil.”

“Iya dech Mass.. Terima kasih ya..!”

Lantas kucium pipinya. Saya bangun ke kamar mandi dengan telanjang bundar sekalian menenteng bajuku. Kamar mandinya berada di ruangan tengah.”Massss…” panggilnya saat saya akan keluar kamarnya.”Apa..?””Esok kembali. Hadirnya jam tigaan saja Mass. Sang Sari hadirnya paling jam 4 kurang, menjadi kita dapat puas-puasin dahulu..!”

“Iyaaa deeehhh.., tenang saja.” kataku sekalian keluar kamar.

Demikianlah tiap saat sebelum mengajarkan, saya mengolah Rina sepuasku. Begitupun dengan Rina. Ia gairahnya besar sekali. Tapi kemaluannya tidak demikian menjepit. Sebetulnya itu bukan permasalahan bagiku. Semenjak saya tidak dapat terkait dengan Sara kembali, saya cukup senang terkait dengan Ketty dan Rina.

Satu saat, saat menyaksikan peralihan atas sikap Sari kepadaku. Ia kerap mengambil pandang ke arahku. Saya tidak paham penyebabnya, tapi sesudah usai belajar, saat kujalan bersama Sari, Sari menceritakan kepadaku.

“Mas.. Sari tahu lhooo.. Jalinan Rina sama Mas…”

“Lho.., Sari tahu darimanakah..? Apa Rina narasi..?” tanyaku terkejut.

“Tidak. Waktu Sari tiba lebih cepat, kurang lebih jam tiga seperempat, Sari masuk ke rumah Rina, Sari denger Rina berteriak-teriak di dalam kamar, aku pikir Rina khan sudah putus sama kekasihnya..? Lantas Rina sama siapa..? Terus Sari lihat. Eeehhh tidak taunya sama Mas Pri..!”

“Teruuuus.., ya Sari keluar saja, takut kedapatan. Terus Sari kongkow di tukang bakso depan. Kurang lebih jam empat kurang, Sari masuk kembali.”

“Yaa.., sudah begitu saja..!”

Sunyi sebentar saat itu, kami repot dengan pikiran kami masing-masing.

“Sari sebelumnya pernah tidak yaa..?” batinku.

“Bertanya, tidak, bertanya, tidak. Kalau kutanya, Ia geram tidak ya.. Ah bodo, yang terpenting bertanya dahulu aja…”

“Eng.., Sari sebelumnya pernah tidak..?”

“Sebelumnya pernah apa Mas..?”

“Ya.., seperti Sara atau Rina..?”

“Belummm Mmassss..!” jawabannya malu dan mukanya merah padam.

Rupanya ia tidkak geram. Betul sangkaanku, gairahnya besar .

“Sari ingin..?”

Ia diam saja sekalian merunduk. Tentu ingin lah.

“Sari sudah punyai kekasih..?”

“Beluumm Mass.., setelah dilarang sama Bapak Ibu.”

“Yaa.., jangan sampai kedapatan doonng..!”

Lantas kami pisah. Karena Sari harus naik bus ke Block A. Dan saya naik bus arah Pondok Labu. Di bus saya berpikiran, bagaimana triknya memperoleh Sari.

“Saya harus manfaatkan Rina..!” pikirku.

Besoknya saat sebelum belajar bersama, saat saya bercumbu dengan Rina, kubilang ke Rina jika Sari sudah mengetahui jalinan kita. Saya meminta kontribusinya untuk memancing gairah sang Sari. Semula kupikir Rina akan menampik, rupanya jalan pikiran Rina sangat moderat. Ia menerimanya. Karena Sari sudah mengetahui, buat apa ditutupi ucapnya.

norma sedang belajar bersama, saya coba pancing gairah Sari dengan kududuk di samping Rina. Saya rangkul Rina, kucium pipinya, bibirnya dan kuraba dadanya. Rina waktu itu menggunakan kaos tanpa BH. Rina membalas. Lantas kudorong ia supaya berbaring di karpet. Kami sama-sama bergumul. Menyaksikan hal tersebut, Sari terkejut . Ia tutupi mukanya. Karena sejauh ini kami terkait sembunyi-sembunyi. Sebelumnya tidak pernah dengan terus-terang. Kali itu kami melakukan perbuatan seakan-akan tidak ada seseorang selainnya kami berdua, untuk memancing gairah Sari.

Perlakuan kami makin menghangat. Karena Rina telah telanjang dada. Lantas Rina turunkan celana pendeknya. Ia segera bugil karena tidak menggunakan celana dalam. Aku juga tidak tinggal diam, kulepas semua bajuku. Kugeluti ia. Lantas kami ambil posisi 69. Rina di atas. Kami sama-sama mengisap.

“Aaahhh.., Mmasss.., sshshshs… Masss.. enaaakkk Mass.., ooohh..!” desah Rina terlalu dibesarkan.

“Ohhh.. Riiinnn… hirup yang kuaattt Riinnnn..!” desahku .

Kusaksikan Sari tidak tutupi mukanya kembali.

Kurang lebih lima menit sama-sama mengisap, Rina berdiri menggenggam tangkai kemaluanku dan arahkan ke lubang senggamanya yang tidak perawan kembali. Turunkan bokongnya dengan perlahan-lahan.

“Bless..!” masuk langsung semuanya.

“Aaahhhh… Maasss.., aaahhh.., ssshhh.., aaahhh..!” desahnya.

Lantas dengan perlahan-lahan dinaik-turunkan bokongnya. Pertama kali perlahan-lahan. Lama-lama makin cepat.

“Aahh.. ooohhh.., sh.. sh.. ooohhh… Iiihhh..!” erangnya.

Kulirik Sari, ia melihati gestur Rina. Kelihatannya ia telah terangsang berat. Karena mukanya merah padam, napasnya mengincar. Tangannya menggenggam dadanya. Pergerakan Rina makin tidak teratasi. Bokongnya berputar sekalian turun naik. Kurang lebih 10 menit, saya rasa lubang kewanitaan Rina telah berkedut-kedut. Ia ingin sampai klimakasnya. Dan pada akhirnya bokongnya menusuk tangkai keperkasaanku dalam sekali.

“Aaahhh.. Masss… Akuuu… sammmpppeee.. Maasss..!”

“Syuuurr… syurrr..” kehangatan menyelimutinya kepala senjataku.

Mass.., Rina khan belajarnya sama Sara. Sara banyak narasi ke Rina mengenai jalinan Sara sama Mas… Kata Sara, Mas luar biasa.., Rina menjadi kepengiiiinn sekali jalinan sama Mas..!”

“Kapan Rina pertama kalinya jalinan dengan kekasih Rina..?”

“Sudah lama Mas.., kurang lebih waktu Rina kelas satu dahulu. Rina kecurian Mass.., tetapi sesudah tahu nikmatnya, Rina menjadi suka.”

“Ooo.”

“Sang Sari kok tidak dateng..?”

“Siang tadi Saya katakan ke Ia, ini hari tidak belajar, karena Saya pengiinn sekali ngentot sama Maass.. Habis.. gatel sssiiiihh..!” ucapnya sekalian mengedut-ngedutkan lubang kewanitaannya.

Penisku terasanya dipijat. Kucabut, lantas keluarlah cairan kental putih dari lubang senggamanya. Lubang kepuasannya kubersihkan dengan kaosnya, lantas tangkai kejantananku juga kulap.

“Saat ini ingin belajar..?” tanyaku.

“Sepertinya tidak dech Mas. Kasian khan Sari ketinggal.”

“Ok dech. Mas sebenarnya ada juga perlu di dalam rumah. Ingin bantuin bapak betulin mobil orang. Esok ingin diambil.”

“Iya dech Mass.. Terima kasih ya..!”

Lantas kucium pipinya. Saya bangun ke kamar mandi dengan telanjang bundar sekalian menenteng bajuku. Kamar mandinya berada di ruangan tengah.”Massss…” panggilnya saat saya akan keluar kamarnya.”Apa..?””Esok kembali. Hadirnya jam tigaan saja Mass. Sang Sari hadirnya paling jam 4 kurang, menjadi kita dapat puas-puasin dahulu..!”

“Iyaaa deeehhh.., tenang saja.” kataku sekalian keluar kamar.

Demikianlah tiap saat sebelum mengajarkan, saya mengolah Rina sepuasku. Begitupun dengan Rina. Ia gairahnya besar sekali. Tapi kemaluannya tidak demikian menjepit. Sebetulnya itu bukan permasalahan bagiku. Semenjak saya tidak dapat terkait dengan Sara kembali, saya cukup senang terkait dengan Ketty dan Rina.

Satu saat, saat menyaksikan peralihan atas sikap Sari kepadaku. Ia kerap mengambil pandang ke arahku. Saya tidak paham penyebabnya, tapi sesudah usai belajar, saat kujalan bersama Sari, Sari menceritakan kepadaku.

“Mas.. Sari tahu lhooo.. Jalinan Rina sama Mas…”

“Lho.., Sari tahu darimanakah..? Apa Rina narasi..?” tanyaku terkejut.

“Tidak. Waktu Sari tiba lebih cepat, kurang lebih jam tiga seperempat, Sari masuk ke rumah Rina, Sari denger Rina berteriak-teriak di dalam kamar, aku pikir Rina khan sudah putus sama kekasihnya..? Lantas Rina sama siapa..? Terus Sari lihat. Eeehhh tidak taunya sama Mas Pri..!”

“Teeruus.., ya Sari keluar saja, takut kedapatan. Sari kongkow di tukang bakso depan. Kurang lebih jam empat kurang, Sari masuk kembali.”

“Terussss..?”

“Yaa.., sudah begitu saja..!”

Sunyi sebentar saat itu, kami repot dengan pikiran kami masing-masing.

“Sari sebelumnya pernah tidak yaa..?” batinku.

“Bertanya, tidak, bertanya, tidak. Kalau kutanya, Ia geram tidak ya.. Ah bodo, yang terpenting bertanya dahulu aja…”

“Eng.., Sari sebelumnya pernah tidak..?”

“Sebelumnya pernah apa Mas..?”

“Ya.., seperti Sara atau Rina..?”

“Belummm Mmassss..!” jawabannya malu dan mukanya merah padam.

Rupanya ia tidkak geram. Betul sangkaanku, gairahnya besar .

“Sari ingin..?”

Ia diam saja sekalian merunduk. Tentu ingin lah.

“Sari sudah punyai kekasih..?”

“Beluumm Mass.., setelah dilarang sama Bapak Ibu.”

“Yaa.., jangan sampai kedapatan doonng..!”

Lantas kami pisah. Karena Sari harus naik bus ke Block A. Dan saya naik bus arah Pondok Labu. Di bus saya berpikiran, bagaimana triknya memperoleh Sari.

“Saya harus manfaatkan Rina..!” pikirku.

Besoknya saat sebelum belajar bersama, saat saya bercumbu dengan Rina, kubilang ke Rina jika Sari sudah mengetahui jalinan kita. Saya meminta kontribusinya untuk memancing gairah sang Sari. Semula kupikir Rina akan menampik, rupanya jalan pikiran Rina sangat moderat. Ia menerimanya. Karena Sari sudah mengetahui, buat apa ditutupi ucapnya.

Saat sedang belajar bersama, saya coba pancing gairah Sari dengan kududuk di samping Rina. Saya rangkul Rina, kucium pipinya, bibirnya dan kuraba dadanya. Rina waktu itu menggunakan kaos tanpa BH. Rina membalas. Lantas kudorong ia supaya berbaring di karpet. Kami sama-sama bergumul. Menyaksikan hal tersebut, Sari terkejut . Ia tutupi mukanya. Karena sejauh ini kami terkait sembunyi-sembunyi. Sebelumnya tidak pernah dengan terus-terang. Kali itu kami melakukan perbuatan seakan-akan tidak ada seseorang selainnya kami berdua, untuk memancing gairah Sari.

Perlakuan kami makin menghangat. Karena Rina telah telanjang dada. Lantas Rina turunkan celana pendeknya. Ia segera bugil karena tidak menggunakan celana dalam. Aku juga tidak tinggal diam, kulepas semua bajuku. Kugeluti ia. Lantas kami ambil posisi 69. Rina di atas. Kami sama-sama mengisap.

“Aaahhh.., Mmasss.., sshshshs… Masss.. enaaakkk Mass.., ooohh..!” desah Rina terlalu dibesarkan.

“Ohhh.. Riiinnn… hirup yang kuaattt Riinnnn..!” desahku .

Kusaksikan Sari tidak tutupi mukanya kembali.

Kurang lebih lima menit sama-sama mengisap, Rina berdiri menggenggam tangkai kemaluanku dan arahkan ke lubang senggamanya yang tidak perawan kembali. Turunkan bokongnya dengan perlahan-lahan.

“Bless..!” masuk langsung semuanya.

“Aaahhhh… Maasss.., aaahhh.., ssshhh.., aaahhh..!” desahnya.

Lantas dengan perlahan-lahan dinaik-turunkan bokongnya. Pertama kali perlahan-lahan. Lama-lama makin cepat.

“Aahh.. ooohhh.., sh.. sh.. ooohhh… Iiihhh..!” erangnya.

Kulirik Sari, ia melihati gestur Rina. Kelihatannya ia telah terangsang berat. Karena mukanya merah padam, napasnya mengincar. Tangannya menggenggam dadanya. Pergerakan Rina makin tidak teratasi. Bokongnya berputar sekalian turun naik. Kurang lebih 10 menit, saya rasa lubang kewanitaan Rina telah berkedut-kedut. Ia ingin sampai klimakasnya. Dan pada akhirnya bokongnya menusuk tangkai keperkasaanku dalam sekali.

“Aaahhh.. Masss… Akuuu… sammmpppeee.. Maasss..!”

“Syuuurr… syurrr..” kehangatan menyelimutinya kepala senjataku.

Dia segera terguling ke sebelahku. Senjataku tercabut dari lubang kepuasannya dan bersebaranlah cairan dari lubang senggamanya ke karpet. Saya memang tidak demikian meresapi permainan ini, karena pikiranku selalu ke Sari . Maka pertahananku masih kuat. Saya bangun dengan telanjang bundar. Kuhampiri Sari. Sari terkejut karena saya mendatanginya masih secara bertelanjang bundar. Langsung kupeluk ia. Kuciumi semua mukanya. Tidak ada penampikan darinya, tapi pun tidak ada reaksi apapun. Betul-betul masih polos.

Semakin lama tangannya mulai merengkuhku. Ia mulai menikmatinya. Membalasnya kecupanku, walaupun lidahnya belum bereaksi. Kuusahan semesra mungkin saya mencumbunya. Dan pada akhirnya mulutnya buka sedikit bersamaan dengan desahannya.

“Aaahhh.. Maasss..!” napasnya mulai mengincar.

Kumasukkan lidahku ke mulutnya. Kubelit lidahnya pelan-pelan. Ia juga membalas. Tanganku mulai meraba-raba dadanya. Berasa putingnya telah mengeras di atas bukit kembarnya yang kecil. Kuremas-remas ke-2 nya berganti-gantian.

“Maaasss.. oooohhhh.. Mmmasss.. shshhshshs…” desahnya.

Kulepas kecupanku. Kupandangi mukanya sekalian tanganku mengusung kaosnya. Ia diam saja. Lepas telah kaosnya, saat ini tinggal BH mininya. Kulepaskan pengaitnya. Ia tetap diam saja. Pada akhirnya terpampanglah bukit kembarnya yang kecil lucu. Seperti umumnya, untuk menaklukan seorang perawan, tidak dapat tergesa-gesa. Haruslah sabar dan dengan kata-kata yang akurat.

“Bukan maaiinnn. Susumu sangat bagus Sar..!” kataku sekalian melihati bukit kembarnya.

Berwarna tidak seputih Rina, cukup coklat seperti warna kulitnya. Saya elus pelan-pelan sekali. Kusentuh-sentuh putingnya yang telah mencolok. Tiap kusentuh putingnya, ia menggeliat.

Kutidurkan ia ke karpet. Lantas kuciumi dada kanannya, yang kiri kuremas-remas.

“Aaahhh.., ssshhh.., Maaasss.., aaaddduuuhhh… aaa..!”

Berganti-gantian kanan kiri. Terkadang kecupanku turun ke perutnya, lantas naik kembali. Tangan kananku telah mengelus-ngelus pahanya. Ia tetap menggunakan celana panjang katun. Terkadang kuelus-elus selangkangannya. Ia mulai buka pahanya. Sementara itu Rina telah pergi ke kamar mandi. Karena kudengar suara siraman air.

Sesudah saya percaya ia telah di pucuk gairahnya, kupandangi mukanya kembali. Mukanya telah memeraskarena gairahnya. Ini waktunya. Lantas tanganku mulai buka pengait celananya, retsletingnya, dan turunkan celana panjangnya sekaligus dengan celana dalamnya. Tidak ada penampikan. Bahkan juga ia menolongnya dengan mengusung bokongnya. Ia melihatiku sayu.

Bukit kemaluannya kecil tidak dengan bulu. Nyaris sama dengan milik Titin dahulu. Karena mungkin sama orang Sunda. Kupandangi bibir kemaluannya. Ia tutupinya dengan ke-2 tangannya. Kutarik tangannya perlahan-lahan sekalian kudekatkan mukaku. Awalnya tangannya tutup cukup keras, tapi semakin lama mulai menurun. Kucium bibir kewanitaannya. Aaahhh.., fresh sekali wanginya. Kuulangi seringkali. Tiap kucium, bokongnya dinaikkan ke atas sekalian mendesah.

“Aaahhh… Masss.., mmm.. sshshshs…”

Tangkai kejantananku tadi telah cukup lemas, mulai mengeras kembali.

Lantas kubuka bibir kewanitaannya dengan jariku. Telah basah. Kutelusuri semua lubangnya dengan jariku, lantas lidahku. Ia makin menggeliat. Lidahku menari-nari cari kedele-nya. Sesudah dapat, kujilat-jilat secara cepat sekalian cukup kutekan-tekan. Reaksinya, gelinjangnya semakin luar biasa, bokongnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Adduuuhhh… Maasss… aaahhh.. ssshhh.. aaahhh..!”

Kuangkat ke-2 kakinya, kutumpangkan ke bahuku, hingga lubang kewanitaannya makin buka. Kupandangi belahan kewanitaannya. Begitu cantik lubangnya. Hangat dan berkedut-kedut.

“Saarr.., memekmu bagus benar.. Harum lagi…”

Kembali kuhisap-hisap. Ia makin keras mendesah.

Kurang lebih 5 menit selanjutnya, pahanya menjepit leherku keras sekali. Lubang keperawanannya berdenyut cepat sekali.

Dan, “Syurrr… syurrr…” menyemburkanlah cairan kepuasannya.

Kuhirup semua. Manis, asin, renyah jadi satu. Aaasshhh… segarnya. Kakinya telah melemas.Kuturunkan kakinya, kukangkangkan pahanya. Kuarahkan tangkai keperkasaanku ke lubangnya sekalian kupandangi mukanya.

“Bisa Sarr..?” tanyaku meminta persetujuannya.

Matanya melihatku sayu, tidak berkekuatan. Ia cuma menggangguk.

“Perlahan-lahan yaa Mass..!”

Kuoles-oleskan kepala kemaluanku dengan cairan pelumas yang keluar lubang senggamanya. Lantas kugesek-gesekkan kepala kejantananku ke bibir kepuasannya. Kuputar-putar sekalian menekan perlahan-lahan.

Dia segera terguling ke sebelahku. Senjataku tercabut dari lubang kepuasannya dan bersebaranlah cairan dari lubang senggamanya ke karpet. Saya memang tidak demikian meresapi permainan ini, karena pikiranku selalu ke Sari . Maka pertahananku masih kuat. Saya bangun dengan telanjang bundar. Kuhampiri Sari. Sari terkejut karena saya mendatanginya masih secara bertelanjang bundar. Langsung kupeluk ia. Kuciumi semua mukanya. Tidak ada penampikan darinya, tapi pun tidak ada reaksi apapun. Betul-betul masih polos.

Semakin lama tangannya mulai merengkuhku. Ia mulai menikmatinya. Membalasnya kecupanku, walaupun lidahnya belum bereaksi. Kuusahan semesra mungkin saya mencumbunya. Dan pada akhirnya mulutnya buka sedikit bersamaan dengan desahannya.

“Aaahhh.. Maasss..!” napasnya mulai mengincar.

Kumasukkan lidahku ke mulutnya. Kubelit lidahnya pelan-pelan. Ia juga membalas. Tanganku mulai meraba-raba dadanya. Berasa putingnya telah mengeras di atas bukit kembarnya yang kecil. Kuremas-remas ke-2 nya berganti-gantian.

“Maaasss.. oooohhhh.. Mmmasss.. shshhshshs…” desahnya.

Kulepas kecupanku. Kupandangi mukanya sekalian tanganku mengusung kaosnya. Ia diam saja. Lepas telah kaosnya, saat ini tinggal BH mininya. Kulepaskan pengaitnya. Ia tetap diam saja. Pada akhirnya terpampanglah bukit kembarnya yang kecil lucu. Seperti umumnya, untuk menaklukan seorang perawan, tidak dapat tergesa-gesa. Haruslah sabar dan dengan kata-kata yang akurat.

“Bukan maaiinnn. Susumu sangat bagus Sar..!” kataku sekalian melihati bukit kembarnya.

Berwarna tidak seputih Rina, cukup coklat seperti warna kulitnya. Saya elus pelan-pelan sekali. Kusentuh-sentuh putingnya yang telah mencolok. Tiap kusentuh putingnya, ia menggeliat.

Kutidurkan ia ke karpet. Lantas kuciumi dada kanannya, yang kiri kuremas-remas.

“Aaahhh.., ssshhh.., Maaasss.., aaaddduuuhhh… aaa..!”

Berganti-gantian kanan kiri. Terkadang kecupanku turun ke perutnya, lantas naik kembali. Tangan kananku telah mengelus-ngelus pahanya. Ia tetap menggunakan celana panjang katun. Terkadang kuelus-elus selangkangannya. Ia mulai buka pahanya. Sementara itu Rina telah pergi ke kamar mandi. Karena kudengar suara siraman air.

Sesudah saya percaya ia telah di pucuk gairahnya, kupandangi mukanya kembali. Mukanya telah memeraskarena gairahnya. Ini waktunya. Lantas tanganku mulai buka pengait celananya, retsletingnya, dan turunkan celana panjangnya sekaligus dengan celana dalamnya. Tidak ada penampikan. Bahkan juga ia menolongnya dengan mengusung bokongnya. Ia melihatiku sayu.

Bukit kemaluannya kecil tidak dengan bulu. Nyaris sama dengan milik Titin dahulu. Karena mungkin sama orang Sunda. Kupandangi bibir kemaluannya. Ia tutupinya dengan ke-2 tangannya. Kutarik tangannya perlahan-lahan sekalian kudekatkan mukaku. Awalnya tangannya tutup cukup keras, tapi semakin lama mulai menurun. Kucium bibir kewanitaannya. Aaahhh.., fresh sekali wanginya. Kuulangi seringkali. Tiap kucium, bokongnya dinaikkan ke atas sekalian mendesah.

“Aaahhh… Masss.., mmm.. sshshshs…”

Tangkai kejantananku tadi telah cukup lemas, mulai mengeras kembali.

Lantas kubuka bibir kewanitaannya dengan jariku. Telah basah. Kutelusuri semua lubangnya dengan jariku, lantas lidahku. Ia makin menggeliat. Lidahku menari-nari cari kedele-nya. Sesudah dapat, kujilat-jilat secara cepat sekalian cukup kutekan-tekan. Reaksinya, gelinjangnya semakin luar biasa, bokongnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Adduuuhhh… Maasss… aaahhh.. ssshhh.. aaahhh..!”

Kuangkat ke-2 kakinya, kutumpangkan ke bahuku, hingga lubang kewanitaannya makin buka. Kupandangi belahan kewanitaannya. Begitu cantik lubangnya. Hangat dan berkedut-kedut.

“Saarr.., memekmu bagus benar.. Harum lagi…”

Kembali kuhisap-hisap. Ia makin keras mendesah.

Kurang lebih 5 menit selanjutnya, pahanya menjepit leherku keras sekali. Lubang keperawanannya berdenyut cepat sekali.

Dan, “Syurrr… syurrr…” menyemburkanlah cairan kepuasannya.

Kuhirup semua. Manis, asin, renyah jadi satu. Aaasshhh… segarnya. Kakinya telah melemas.Kuturunkan kakinya, kukangkangkan pahanya. Kuarahkan tangkai keperkasaanku ke lubangnya sekalian kupandangi mukanya.

“Bisa Sarr..?” tanyaku meminta persetujuannya.

Matanya melihatku sayu, tidak berkekuatan. Ia cuma menggangguk.

“Perlahan-lahan yaa Mass..!”

Kuoles-oleskan kepala kemaluanku dengan cairan pelumas yang keluar lubang senggamanya. Lantas kugesek-gesekkan kepala kejantananku ke bibir kepuasannya. Kuputar-putar sekalian menekan perlahan-lahan.

“Aaahhh.. Maasss… Ooohhh..!” ia mendesah.

Lantas kutekan dengan sangat perlahan-lahan. Kepalanya segera masuk. Kuperhatikan kemaluannya menggembung karena menelan kepala keperkasaanku. Tertekan sedikit kembali. Kusaksikan ia menggigit bibir bawahnya. Kuangkat bokongku sedikit dengan sangat perlahan-lahan. Lantas kudorong kembali. Demikian berkali-kali sampai ia tidak meringis.

“Ayooo… Masss.. aaahhh.. ooohhh.., ssshhhshshhh..!”

Lantas kudorong kembali. Masuk sepertiganya. Ia meringis kembali. Kutahan sesaat, kutarik perlahan-lahan, lantas kudorong kembali. Berasa kepala tangkai kejantananku berkenaan selaput tipis. Nach inilah selaputnya.

“Kok tidak dalam..? Belum masuk separuhnya sudah terkena..!” batinku dalam hati.

“Sar.., tahan sedikit yaa..!”

Lantas kucium bibirnya. Kami berciuman, sama-sama mengulum. Dan dengan mendadak kutekan tangkai keperkasaanku dengan keras.

“Pret..!” kemaluanku menubruk suatu hal langsung sobek.

Ia ingin menjerit, tapi karena mulutnya kusumpal, jadi tidak ada suara yang keluar. Kudiamkan sesaat kejantananku supaya lubang keperawanannya ingin terima benda tumpul asing. Lantas kutarik ulur pelan-pelan. Sesudah kelihatan ia tidak merasakan kesakitan, kutekan lebih dalam kembali. Kutahan kembali. Kuangkat perlahan-lahan, kutekan sedikit . Demikian berkali-kali sampai senjataku masuk semua. Ia tidak dapat berbicara karena mulutnya kulumat. Kutahan kemaluanku dalam, kulepaskan kecupanku. Lubang senggamanya menjepit semua batangku di semua segi. Rasanya bukan bermain enaknya.

“Bagaimana Sar..?”

“Sakiittt Masss… Periiihhh… Mmmm..!”

“Tahan saja dahulu, sesaat lagi ilang kok…” sekalian kucabut benar-benar perlahan-lahan.

Kutekan kembali sampai menyentuk ujung rahimnya. Demikian berkali-kali. Saat kutarik, kusaksikan kemaluan Sari cukup tertarik sampai terlihat cukup menggembung, dan jika kutekan, cukup mblesek menggelembung. Sesudah 5 atau 6 kali saya naik turun, berasa cukup mulai licin. Dan Sari juga tidak kelihatan kesakitan kembali.

“Sar.., memekmu sempit sekali. Ooohhh sedap sekali Sar..!” bisikku sekalian percepat pergerakanku.

Ia kelihatannya telah merasa nikmat.

“Aaahhh… eennnaaakkk… Masss… aaahhh.. shshshshsh…” desahnya. Kupercepat terus.

“Ah.. ah.. ahh.. ooo.. shshsh.. aaaddduuuhhh… ooohhh..!” bokongnya mulai bergerak menyeimbangi pergerakanku. Kurang lebih 5 menit, ia mulai tidak teratasi. Bokongnya bergerak liar. Mendadak ia menekuk, ke-2 kakinya menjepit bokongku sekalian mengusung bokongnya. Bibir kemaluannya berkedut-kedut.

Dan, “Sysurrr.. syuurrr..” 2x kepala kejantananku disembur oleh cairan hangatnya.

Karena saya dari barusan mau keluar dan kutahan-tahan, karena itu kupercepat pergerakanku.

“Masss… Uuudddaaahhh.. Mmasss.. Aaaddduuhhh.. Gellii.. Maass..!” teriaknya.

Saya tidak perduli. Keringatnya telah mirip orang mandi. Kupercepat terus pergerakanku, pada akhirnya, “Crooot… cruuuttt..” 3x saya menembakan cairanku di lubang kepuasannya.

Lantas saya roboh di sampingnya.

Mendadak, “Plok.. plok.. plok..” kedengar suara tepokan.

Ternyata Rina telah dari barusan memerhatikan kami berdua.

“Mas hebat… Sari.. selamat yaa..!” ucapnya sekalian mencium pipi Sari.

Sari cuma dapat tersenyum di antara napasnya yang ngos-ngosan.

“Sedap Sar..?” tanyanya kembali.

Sari cuma dapat menggangguk kurang kuat. Lantas saya merengkuh Sari.

“Sari. Terima kasih yaa..!” kataku sekalian mengecup pipinya.

“Sari terima kasih Mas.. Enaakkk sekali ya Mass..!”

Saya bangun ambil baju-bajuku yang berantakan. Kusaksikan di selangkangan Sari ada bintik-bintik lendir kemerahan.

“Aaaahhh… Saya dapat perawan kembali..!” batinku.

Lantas saya ke kamar mandi. Usai kumandi, giliran Sari yang mandi. Sesudah semua usai, kami cuma mengobrol saja sekalian minum teh hangat yang dibuatkan Rina. Bercerita pengalaman yang dirasa oleh masing. Saya lemas karena di dalam 2 jam sampai 3x bermain.

Mulai sejak itu, Sari selalu tiba jam 3 sore. Dan saat sebelum belajar, kami selalu memulainya dengan pelajaran biologis. Rina kelihatannya ketahui dan mengetahui jika punyanya Sari tambah lebih tambah oke, menjadi ia mengalah selalu dapat gantian ke-2 . Mereka juga sama-sama share. Sama-sama coba dan mengajarkan. Saya yang jadi alat uji coba mereka menurut saja. Setelah sedap sich.

Sesudah pembagian rapor, rupanya yang nilainya naik banyak cuma Sari. Tapi ke-2 nya naik kelas dengan nilai di atas rerata. Demikianlah pengalamanku dengan gadis-gadis SMP.

MONA4D

Artikel Bokep

Create Account



Log In Your Account